Ini adalah sepotong kisah yang kutemukan dari sebuah website. Kalian boleh mengartikannya dalam bentuk yang lain, tapi kuharap kita sama-sama mengartikannya sebagai sebuah rangkaian kata penguat semangat. Semangat untuk terus bermimpi, semangat untuk terus berusaha.
Meja Telepon Ibu
by: Siti Horiah (*)
Disudut ruang tamu kami, yang luasnya
tidak lebih dari 4m2 itu terletak sebuah meja kecil berwarna hitam. Meja
itu adalah sebuah meja telepon rumah yang sudah beralih fungsi sebagai
meja belajarku. Meja itu adalah satu-satunya meja yang ada di rumah
kami, meja yang sampai saat ini masih dibiarkan ibuku tetap berdiri
tegak dan masih tetap berada dirumah kami dengan sebuah alasan yang tak
aku ketahui.
Beginilah kondisi rumah kami setelah
peristiwa kebangkrutan usaha ayahku. Demi menyambung nyawa keluarga
kami, ibu rela menjual barang-barang berharga yanga ada di rumah kami
pada tetangga sekitar. Ibuku tidak tahu lagi harus berbuat apa, dan
tidak tahu lagi bagaimana caranya mendapatkan uang untuk membeli beras.
Beliau menjual satu persatu barang-barang berharga kami, setiap kali
datang waktu makan. Mulai dari beberapa pakaian ibuku yang paling beliau
suka, alat-alat dapur seperti gelas, piring, panci, dispenser, bahkan
sendok dan garpu pun ikut habis terjual.
Ayahku tidak dapat berbuat banyak setelah peristiwa kebangkrutan usahanya. Beliau hanya mampu menjadi kuli dipasar tradisional di kota kami. Upah yang dia terima tidak mampu menutupi kebutuhan keluarga besar kami.
Ayahku tidak dapat berbuat banyak setelah peristiwa kebangkrutan usahanya. Beliau hanya mampu menjadi kuli dipasar tradisional di kota kami. Upah yang dia terima tidak mampu menutupi kebutuhan keluarga besar kami.
***
Suatu siang, aku melihat adikku Rafi
menangis sambil menghampiri ibu yang sedang duduk lemas menonton tv
tanpa antena itu. Aku memperhatikan gerak-gerik ibu yang kepanikan,
beliau tidak ingin membiarkan Rafi adikku menangis terlalu lama.
“ibu, ibu aku lapar!” jerit Rafi.
Ibu yang tak bisa berkata apa-apa
langsung pergi menuju dapur, mengambil beberapa piring. Aku pun terus
memperhatikan gerak-gerik ibu. Aku heran apa yang akan ibu lakukan
dengan kelima buah piring itu. Sempat aku berpikir kalau ibu akan
mengambilkan nasi untuk Rafi, namun aku teringat kalau dari kemarin aku
belum memasak nasi untuk keluarga kami. Dengan masih tetap
memperhatikannya dari balik pintu, aku melihat air mata ibuku jatuh
berlinang membasahi pipinya yang pucat, namun dengan cepat beliau
langsung menghapusnya takut-takut kalau air matanya akan terlihat
olehku. Aku pura-pura tidak sadar dengan apa yang ibu lakukan didapur,
aku menyibukan diriku dengan menggendong dan menimang Rafi agar dia
tidak menangis.
Kubiarkan ibu dengan kesibukannya,
kulihat beliau keluar rumah dengan kelima piringnya itu. Tak beberapa
lama kemudian beliau kembali dengan uang ribuan yang lusuh sebanyak lima
lembar. Aku terheran-heran atas apa yang ibu lakukan. Ibu langsung
menyuruhku pergi kewarung membeli setengah liter beras, dan satu butir
telur. Tanpa berpikir panjang aku pun langsung pergi menuruti perintah
ibu.
Aku kembali dengan apa yang ibu minta dan
ibu langsung menyuruhku memasaknya. Ibu menyuruhku membuat telur dadar
dengan mencampurkan telur itu dengan terigu, agar satu telur itu menjadi
besar dan cukup untuk dimakan oleh kami bersembilan. Aku menarik napas
dalam-dalam, air mataku pun tak kuat dibendung, menetes jatuh. Aku tak
kuat menahan ini semua, bagaimana tidak, setiap harinya kami hanya makan
satu kali sehari. Berbagi setengah liter nasi untuk sembilan orang,
satu butir telur saja harus dibagi sembilan, sering kamipun membagi 2
bungkus mie instans untuk sembilan orang. Terkadang ayah memilih pergi
dari rumah saat tiba waktu makan, beliau pergi sambil menitip pesan
padaku agar jatah makanannya diberikan pada adik-adikku saja.
Ibu sangat sayang pada kami, beliau tidak
pernah membagi penderitaanya pada kami semua. Selagi ayah menjadi kuli
dipasar, ibu selalu menggantikan peran ayah. Ibu tak pernah terlihat
sedih dengan penderitaanya. Ibu rela berkorban demi kami semua. Ibu rela
menjual tempat tidurnya dan memilih tidur dilantai dengan beralaskan
kasur yang tipis saja.
Hampir seluruh barang berharga dirumah kami terpaksa beliau jual, demi menutupi pendapatan ayah yang besarnya tak kurang dari sepuluh ribu rupiah. Hanya satu buah meja telepon yang ibu sisakan diruang tamu kami. Aku heran kenapa ibu tidak pernah mau menjual meja tersebut, beliau lebih memilih menjual beberapa pakaiannya ketimbang menjual meja tersebut. Sampai pada saatnya aku tak sanggup melihat pakaian terbaik ibu harus ikut terjual, akupun menawarkan meja telepon itu untuk dijual pada ibu. Namun ibu menolak dengan kata-kata yang membuatku menangis sendiri.
“Selapar apapun kita nanti, ibu tidak akan menjual tempat yang kau gunakan untuk mengantungkan cita-citamu itu nak, pakailah terus meja itu.” Ungkapnya sambil pergi kerumah tetangga untuk menjual baju terbaiknya selama ini, demi sepiring nasi untuk keenam adikku.
Hampir seluruh barang berharga dirumah kami terpaksa beliau jual, demi menutupi pendapatan ayah yang besarnya tak kurang dari sepuluh ribu rupiah. Hanya satu buah meja telepon yang ibu sisakan diruang tamu kami. Aku heran kenapa ibu tidak pernah mau menjual meja tersebut, beliau lebih memilih menjual beberapa pakaiannya ketimbang menjual meja tersebut. Sampai pada saatnya aku tak sanggup melihat pakaian terbaik ibu harus ikut terjual, akupun menawarkan meja telepon itu untuk dijual pada ibu. Namun ibu menolak dengan kata-kata yang membuatku menangis sendiri.
“Selapar apapun kita nanti, ibu tidak akan menjual tempat yang kau gunakan untuk mengantungkan cita-citamu itu nak, pakailah terus meja itu.” Ungkapnya sambil pergi kerumah tetangga untuk menjual baju terbaiknya selama ini, demi sepiring nasi untuk keenam adikku.
Aku lemas mendengarnya, jadi selama ini
ibu tidak mau menjualnya hanya karena aku sering memakai meja yang
panjangnya tidak lebih dari 30 cm itu untuk belajar. Aku tersadar selama
ini aku memang selalu menggunakan meja itu untuk belajar karena itu
adalah satu-satunya meja yang ada dirumah kami.
Itulah kondisi yang selama ini aku alami,
tak ada yang bisa aku lakukan banyak ketika itu. Saat itu kondisinya
aku sedang duduk dikelas tiga. Ditengah kondisi seperti ini aku harus
tetap berjuang untuk bisa lulus SMA. Setiap malam aku bangun untuk
belajar dan mengerjakan tugas, aku menggunakan meja telepon itu sebagai
alasku belajar. Terbayang betapa menderitanya belajar di atas meja yang
luasnya lebih kecil dari luas buku tulisku. Namun tidak ada pilihan lain
bagiku, aku tak mampu menunduk lama untuk belajar bila memilih belajar
diatas lantai yang dingin. Meja itu adalah teman terbaik bagiku. Dia
selalu menemaniku dimalam hari disaat semua orang terlelap, aku harus
bangun untuk belajar. Semua itu aku lakukan karena aku tidak memiliki
waktu disiang hari untuk belajar.
Benar kata ibuku meja itu adalah tempat
aku menggantungkan semua cita-citaku. Tempat aku memulai perubahan pada
hidup keluargaku. Ibuku berharap besar padaku, karena aku adalah anak
pertama. Jadi setelah aku lulus SMA nanti aku bisa langsung bekerja, dan
ibu optimis terhadap diriku kalau aku nanti akan mendapatkan pekerjaan
yang layak. Karena ibu tahu aku termasuk murid yang berprestasi
disekolah.
Tanpa disadari aku memang menyayangi meja
kecil hitam itu, meja itu selalu aku bersihkan setiap harinya, walaupun
meja itu kecil dan sempit tapi aku masih bersyukur bisa tetap menulis
diatas meja. Meja itu adalah satu-satunya tempat aku berbagi rahasia,
tempat aku mengukir sebuah mimpi. Hanya meja itu yang menjadi saksi
kalau aku memiliki sebuah mimpi yang selama ini aku rahasiakan dari
dunia.
Aku punya sebuah mimpi yang benar-benar
tidak bisa aku ungkapkan pada siapapun. Aku takut kalau mimpiku yang
satu ini kuberitahu pada orang tuaku itu akan menjadi beban padanya,
kalau aku beritahu pada teman-teman atau orang banyak aku takut mimpiku
yang ini akan ditertawakan mereka. Jadi selama ini hanya meja kecil ini
yang bersaksi kalau aku sering mengukir sebuah nama Universitas yang aku
impikan pada catatan sekolahku. Ya, mimpiku yang tidak dapat aku
beritahukan kepada siapa pun termasuk orang tuaku sendiri adalah duduk
di bangku KULIAH.
Sebenarnya setiap kali orang tuaku membahas tentang pekerjaan yang nantinya aku lakoni setelah lulus SMA, hati kecilku menangis merintih tak terdengar siapapun.
Sebenarnya setiap kali orang tuaku membahas tentang pekerjaan yang nantinya aku lakoni setelah lulus SMA, hati kecilku menangis merintih tak terdengar siapapun.
“ayah, mama, aku gak mau kerja aku mau
kuliah kaya temen-temen, aku mau masuk UGM aku mau ke Jogja, aku gak
bisa KERJA!” jerit hati kecil ini.
***
Saat-saat seperti ini semua teman-temanku
sibuk mencari tempat bimbel yang terbaik dikota kami, sebagai salah
satu persiapan sebelum menghadapi SNMPTN. Bagi seorang Siti Horiah
jangankan mengikuti program bimbel, buku paduan SNMPTN saja tak punya.
Aku tak pernah memiliki niat untuk membeli buku SNMPTN yang harganya
selangit itu. Untuk makan adik-adiku saja setiap subhu aku dan ibu masih
harus keliling pasar untuk menjajakan kue cucur buatan ibuku. Bagaimana
aku mau menabung, uang jajan yang ibu berikan itu hanya sebesar tiga
ribu rupiah saja, itupun hanya cukup untuk ongkos naik angkutan umum.
Kalau kue kami tidak terjual satupun itu berarti aku harus berjalan kaki
sejauh 3 km untuk sekolah. Aku tak sanggup meminta uang sepeserpun
unutuk membeli buku SNMPTN pada ayahku yang menjadi kuli dipasar,
apalagi berkata pada ayah kalau aku ingin kuliah ke JOGJA. Sudahlah
bagiku kuliah adalah mimpi-mimpi basi seorang siswa SMA kelas 3 seperti
aku ini.
Itulah sebabnya aku menyembunyikan mimpi
besar hidupku ini dari orang banyak. Bagiku mimpi ini hanya akan menjadi
pisau kecil bagi keluarga kami. Mimpi yang akan menusuk dan mengiris
perasaan kedua orang tuaku. Tak pernah sekalipun aku berniat untuk
mengkhayal menduduki bangku kuliah. Aku takut kalau kedua orang tuaku
tahu tentang mimpi ini, mereka pasti akan merasa kalau mereka bukan
orang tua yang baik, orang tua yang tidak bisa membahagiakan
anak-anaknya. Biarlah mimpiku yang ini hanya aku, meja kecil itu dan
Tuhan yang tahu.
***
Sahabatku Ana selalu ada untukku,
memberika support. Cita-citanya menjadi dokter membuat aku tersenyum
miris sendiri. Aku selalu berpikir kenapa aku tidak seberani dirinya
bermimpi dan bercita-cita. Namun aku sadar aku tidak seperti dirinya,
aku bukan anak siapa-siapa yang boleh bermimpi setinggi itu. Kalau kata
adikku yang pertama “MIMPI ITU MAHAL KAK!” buat bermimpi saja itu sulit
apa lagi merealisasikannya pada kenyataan. Sesulit itukah bermimpi
pikirku kalau mimpi saja dianalogikan dan disamakan dengan kata mahal.
Kata-kata yang membuat keluarga miskin seperti kami gempar mendengarnya.
Kata mahal itu bagi kami berarti mustahil dijangkau. Maklumlah, bagi
keluarga miskin seperti kami harga sebutir telur naik seratus rupiah pun
sudah membuat kepala ayahku sakit.
Saat aku berkunjung kerumah Ana, orang
tuanya memberikanku uang sebesar seratus ribu rupiah. Tanganku gemetar
menerimanya. Orang tua Ana memberikan uang itu untuk aku gunakan sebagai
ongkos pulang kerumah, yang pada kenyataannya ongkos yang aku gunakan
hanya empat ribu rupiah. Setelah kuputuskan sisa uang tersebut
kuberanikan saja untuk kubelikan sebuah buku SNMPTN bekas dipasar. Agar
harganya tidak mahal dan aku dapat memberikan sisa uangnya pada ibuku.
Aku sangat senang sekali saat itu, aku berpikir walaupun aku tak ada
niat untuk kuliah namun apa salahnya kalau aku juga ikut menimba ilmu
seperti teman-temanku.
***
“Kamu mau kuliah?” sahut ayahku didepan ibu dan adik-adiku.
Aku kaget bukan main terhadap pertanyaan
itu, dari mana ayah tahu mimpi yang aku sembunyikan dari dunia itu,
mimpi yang tidak pernah terucap oleh lidahku sendiri walau dalam doa di
sholatku, mimpi yang hanya ikut mengalir bersama air mata sebelum
tidurku, mimpi yang bahkan akupun sendiri malu bercerita pada Tuhan.
Ternyata ayah menyadari hal itu semua karena buku SNMPTN yang baru aku
beli kemarin ku letakan diatas meja kecil hitam itu. Ibuku yang hanya
lulusan SD menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan ayah. Ibu marah
mendengar hal itu, ibu menyuruhku mengubur mimpi tersebut, ibu takut
kalau nantinya aku stress karena mimpiku yang ini tidak akan pernah
terwujud. Aku tertunduk menangis, adik-adiku iba melihat kearahku. Ayah
menenangkanku tersenyum padaku, ayah berkata padaku agar aku belajar
yang baik dan mencari tempat kuliah yang aku inginkan. Ayah berkata
kalau beliau akan berusaha mati-matian agar aku bisa kuliah. Aku
tersenyum melihat ayah yang bijak berkata seperti itu, entahlah aku
sempat berpikir kalau ayah hanya ingin menenangkan diriku saja.
***
Suatu sore saat aku sedang menyapu halaman rumah, seorang ibu yang sebaya dengan ibuku menegurku.
“kamu mau kuliah yah neng?”. Tegurnya sambil tertawa kecil.
Aku kaget dibuatnya, Ibu itu berkata
kalau kemarin ibuku bercerita pada dirinya bahwa aku merengek meminta
meneruskan sekolah. Ibu itu menasihati diriku, dia berkata padaku kalau
kita sebagai orang susah jangan ‘kebanyakan tingkah’, aku sebagi anak
pertama jangan menyusahkan kedua orangtua dengan merengek-rengek minta
kuliah. Kuliah itu mahal katanya, upah ayahmu itu tidak cukup untuk
makan dua kali sehari, apalagi untuk biaya kuliah. Kasihan adikmu ada
banyak mau makan apa mereka.
Hatiku bergetar, ingin rasanya aku
membentaknya. Namun aku hanya mampu membalas perkataannya dengan senyum
termanis yang aku miliki.
Keesokan harinya ibuku bercerita, kalau
teman-teman ayahku dipasar itu mengolok-olok ayahku karena ayahku
bercerita pada mereka kalau aku ingin kuliah. Mereka berkata pada ayahku
kalau tidak akan ada universitas yang mau menerima orang miskin seperti
aku ini.
Aku berlari menuju meja kecil hitam di
ruang tamuku, ku buka buku catatanku yang pernah kutulisi tulisan
grafiti nama sebuah universitas impianku. Kurobek dan kulempar bukunya,
aku marah saat itu. Karena orang yang paling aku sayang itu dihina oleh
orang lain, dicaci maki. Aku tersadar kalau itu semua karena mimpi
‘konyolku’ berkuliah. Itulah sebabnya selama ini aku malu dan memutuskan
untuk menguburkan niat dan impianku berkuliah sedalam-dalamnya. Sudah
kukira akan berakhir dengan penghinaan kedua orangtuaku seperti ini. Aku
kesal, orang tuaku dihina seperti itu. Aku malu karena itu semua adalah
ulah dari mimpi tidur indahku.
Keesokan harinya disekolah teman-temanku bersorak dan memanggilku.
***
Keesokan harinya disekolah teman-temanku bersorak dan memanggilku.
“Selamat yah sit, lu masuk daftar undangan SNMPTN tuh!” ucap Lidia
Jantungku bergetar, aku tak percaya kalau
namaku bisa masuk dalam jajaran murid-murid pintar yang bisa mengikuti
SNMPTN undangan. Aku pun girang bukan main, ku hampiri guru bimbingan
konselingku. Aku menceritakan masalah keluargaku selama ini, awalnya aku
tak mau bercerita namun karena mimpiku berkuliah saat ini sudah ada di
depan pelupuk mata. Maka akupun memutuskan untuk menceritakan semuanya
agar aku mendapatkan jalan keluar yang terbaik.
Guruku itu langsung memeluk tubuhku yang
kaku, dia memiliki impian besar terhadap diriku. Dia mencarikan solusi
untuk masalahku ini dengan menawarkan beasiswa BIDIKMISI. Tanpa berpikir
panjang aku menyetuji ajakannya. Aku pulang kerumah dan menyiapkan
berkas-berkas yang ada, saat itu aku merasa bersyukur sekali karena
impianku yang kurasa buruk itu akan segera terwujud. Aku sengaja tidak
memberitahu informasi ini pada kedua orangtuaku, aku ingin membuat semua
ini menjadi kejutan bagi mereka.
Segala macam persyaratan pendaftaran
SNMPTN itu pun telah dipenuhi, aku memutuskan untuk memilih UNIVERSITAS
GADJAH MADA dan prodi TEKNIK NUKLIR pada pilihan pertama. Entahlah
dengan hanya bermodal menyukai kimia dan fisika. Maka aku putuskan untuk
memilih program studi ini. Besar harapanku untuk diterima. Setelah
semuanya selesai , baru ku beritahu ayah dan mama. Mereka sangat senang
karena beasiswa Bidik Misi ini mereka berdua tidak perlu mengeluarkan
uang sampai aku lulus nanti. Kedua orang tuaku pun senang dengan pilihan
program studi yang aku pilih itu. Semuanya tinggal ku pasrahkan pada
Tuhan. Kalau memang rezeki aku pasti akan mendaptkannya pesan ayah
padaku yang selalu ku ingat. Aku senang dan aku ingin membuktikan pada
semua orang yang telah menghina mimpiku. Aku ingin membuktikan kalau
impianku ini akan segera terwujud.
***
Dua bulan lamanya aku menunggu
pengumuman, selama itu aku mempersiapkan diriku untuk bisa mengikuti
SNMPTN tulis, aku belajar sedikit demi sedikit dari buku soal-soal
SNMPTN yang aku miliki. Semangatku berkuliah setiap harinya semakin
kencang. Ditengah-tengah semangatku ini, masih saja ada tetangga yang
mengolok-olok mimpiku. Ada tetangga yang berkata pada ibuku seperti ini.
“Hati-hati bu, itu anaknya bukan mau kuliah tapi mau jual diri.” Ucapnya sinis
Ingin rasanya aku menampar orang yang
berbicara seperti itu pada ibuku, tapi ibuku menyadarkanku kalau ucapan
mereka adalah batu loncatan bagi prestasiku. Aku harus tetap rajin
belajar dan membuktikan pada dunia kalau mimpiku itu akan mengubah dunia
menjadi lebih baik.
***
Semua hinaan, cacian maki
tetangga-tetangga sampai saudara-saudara terdekat kami kemarin terhadap
mimpi besarku, kini lenyap sudah. Air mata kedua orang tuaku kini
warnanya berubah sebening permata, keringatnya yang bercucuran itu
menjadi keringat kebanggaan mereka terhadapku, simpulan senyum
guru-guruku mengguratkan harapan besar padaku. Ya, aku diterima di
Universitas kerakyatan yang menjadi kebanggaan negara ini. Universitas
bergengsi dan nomor satu terbaik di Negeri ini. Gadjah Mada namanya, di
sana namaku tertera di Teknik Nuklir. Program studi sarjana Nuklir
satu-satunya di ASEAN dan memiliki lulusan terbaik se-Asia.
Aku tak bisa berkata apa-apa, melihat
kebahagiaan kedua orang tuaku. Melihat mimpiku yang kini menjadi nyata,
mimpi yang tak pernah berani aku ungkapkan pada dunia. Mimpi yang tak
seharusnya aku tutupi dari orang lain. Sekarang aku sadar kalau semua
itu memang berasal dari mimpi. Mimpi yang bukan hanya sekedar mimpi,
mimpi yang harus segera diwujudkan, bukan dibiarkan tetap tidur bersama
angan-angan semata. Aku pun tersadar sekarang kalau tak ada satupun hal
yang mustahil dalam hidup ini, aku masih memiliki Allah. Tuhanku yang
tak pernah tidur, yang selalu mau mendengarkan mimpi kecil kita. Aku tak
akan menyia-nyiakan amanat besarmu ini Tuhan. Aku tersenyum mengingat
semua pengorbanan aku dan kedua orangtuaku demi mimpi manis ini kemarin.
Terimakasih meja kecilku yang setia menemaniku merogoh mimpi ini.
Terimakasih Tuhan mengijinkanku merajut asa ini untuk meraih impian.
(*) Siti Horiah mahasiswa dari Program Studi Teknik Nuklir 2012 mendapat
penghargaan sebagai pemenang pertama dalam Lomba Menulis Kisah
Inspiratif Kamakarya 2013 yang diadakan dalam rangkaian acara Seminar
Motivasi Nasional oleh divisi keilmuan Kamadiksi dalam rangka
meningkatkan motivasi penerima beasiswa Bidik Misi. Acara yang memiliki
tema “Menembus Batas, Memetik untaian mimpi ” ini diselenggarakan pada
hari Minggu, 7 April 2013 bertempat di Gedung Graha Sabha Pramana
Universitas Gadjah Mada dengan pembicara Dr. Revrisond Baswir (pakar
Ekonomi Kerakyatan), Dr. Widyo Winarso (Kepala Subdirektorat
Kemahasiswaan DIKTI) dan Bapak Eko Prasetyo. Talkshow dengan narasumber
tersebut sangat menginspirasi dan memotivasi para peserta seminar yang
jumlahnya kurang lebih 1100 orang, di mana para peserta tersebut
didominasi oleh mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi UGM ditambah dari
universitas lain di sekitar Yogyakarta.
Dalam Lomba Menulis Kisah Inspiratif
Kamakarya 2013 ini, peserta wajib menuliskan kisah nyata perjuangan
mereka dalam merajut asa dan meraih impiannya masing-masing. Kisah yang
harus menginspirasi banyak orang nantinya, kisah yang dapat memberikan
gambaran banyak orang betapa kita tak boleh berputus asa dalam meraih
impian. Siti Horiah sendiri mengaku bahwa dirinya tidak menyangka dapat
memenangkan lomba kepenulisan ini, karena latar belakang jurusan sebagai
anak teknik yang harus bersaing dengan orang-orang hebat yang memang
bergelut dalam bidang kepenulisan. Namun tanpa disangka dirinya dapat
berprestasi dan bisa produktif dalam menghasilkan cipta dan karya yang
terbaik. Inspirasi dan bakat itu memang akan selalu ada dalam diri
seseorang tanpa terkecuali selagi ada motivasi yang kuat dalam diri
untuk menciptakan karya terbaik untuk bangsa ini.
Source: http://tf.ugm.ac.id/index.php/14-prestasi/112-mahasiswa-teknik-fisika-ft-ugm-memenangi-lomba-menulis-kisah-inspiratif-kamakarya-2013
Direpost oleh Parmantos, Mahasiswa Master di IZTECH Izmir dan salah satu penggagas Dunia Menginspirasi (https://www.facebook.com/DuniaMenginspirasi) .
Direpost oleh Parmantos, Mahasiswa Master di IZTECH Izmir dan salah satu penggagas Dunia Menginspirasi (https://www.facebook.com/DuniaMenginspirasi) .