Selasa, 01 Februari 2022

Membiasakan Minum Sambil Duduk Sejak Usia Dini


ilustrasi minum sambil duduk (https://www.idntimes.com)

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Hendaklah mereka takut kepada Allah jika meninggalkan  generasi yang lemah di belakang mereka, yang mereka khawatir terhadap  kesejahteraannya. Karena  itu, hendaklah  mereka bertaqwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang baik. (Q.S. al-Nisâ [4]: 9)

    Salah satu cara mendidik anak adalah menjadi teladan bagi anak. Sebagaimana firman Allah SWT diatas, yakni mengucapkan perkataan yang baik serta memberikan pengajaran dan pendidikan agar generasi selanjutnya tidak 'lemah' ilmu. Banyak sekali yang pengetahuan yang harus diajarkan kepada anak, salah satunya tentang adab minum. 

    Pada umumnya orang tua kita sejak dulu selalu mengingatkan anak-anaknya supaya tidak minum sambil berdiri dengan ucapan ‘pamali!’, ‘nanti tersedak’, dan karena sebab lainnya. Ternyata itu bukan mitos belaka, karena menurut agama khususnya agama islam melarang umatnya untuk minum sambil berdiri dan menganjurkan minum sambil duduk.

    Terlepas dari itu ternyata menurut hadist pun minum sambil duduk lebih baik daripada minum sambil berdiri atau lari-lari. Syafri Muhammad Noor dalam bukunya, ‘Makan dan Minum Sambil Berdiri Haramkah?’ menjelaskan hikmah dan manfaat Kesehatan minum sambil duduk, yaitu :

  1.       Kebiasaan minum sambil duduk bermanfaat dalam membantu menyehatkan ginjal.
  2.       Orang yang terbiasa minum sambil duduk akann terhindar dari dehidrasi.
  3.       Kebiasaan minum sambil duduk dapat terhindar dari penyakit lambung.

Kenapa minum tidak boleh sambil berdiri?

    Menurut Ibnu Qoyyim, minum sambik berdiri tidak dapat memberikan kesegaran pada tubuh secara optimal, air yang masuk ke dalam tubuh akan cepat turun ke bagian organ tubuh bagian bawah, air yang dikonsumsi tidak tertampung di dalam lambung yang nantinya akan di pompa oleh jantung untuk disalurkan ke seluruh organ tubuh. Dengan demikian air tidak akan menyebar ke organ-organ tubuh yang lain.

    Kembali ke permasalahan awal bagaimana supaya anak terbiasa minum sambi duduk. Hal ini tentunya harus dibiasakan dari rumah karena rumah merupakan sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya dan orangtua sebagai gurunya. Dengan demikian orang tua harus memberi contoh dan telada yang baik ketika minum.

    Selanjutnya di lingkungan sekolah, yang paling berperan dalam mengingatkan dan mengarahkan anak untuk minum dengan posisi yang benar adalah guru, misalnya ketika waktu makan bekal, dan bermain tidak jarang kita melihat anak-anak minum sambil berdiri bahkan berlari, disaat itu pula hendaknya guru langsung mengingatkan anak dengan kalimat yang mudah dihafal dan diingat oleh anak, contohnya kalimat,

Laa tasyrabanna ahadukum qaa imaan

“Janganlah kamu  minum sambil berdiri.”

    Setiap kali ada anak yang minum sambil berdiri atau berlari saat itu pula kalimat tersebut dilontarkan oleh guru dan secara terus menerus ketika anak mengulanginya. Dengan seringnya anak mendengar kalimat tersebut, Insya Allah anak akan selalu teringat dan langsung mengubah posisi minumnya, yang semula sambil berdiri dia akan seketika duduk atau jongkok, bahkan ketika anak pulang dari sekolah dan ada di lingkungan rumah atau dimana pun kalimat tersebut akan terus dilakukan oleh anak. 

   Selain menanamkan adab minum yang baik, sikap ini juga membantu pengembangan aspek agama dan moral kepada anak. Anak merupakan peniru yang baik. maka sebagai orangtua dan guru  harus selalu memberikan teladan yang baik dalam setiap hal.

Sabtu, 27 Februari 2021

 

Golden Hordé



Sejarah Berdirinya Dinasti Golden Hordé 

    Bangsa Mongol terkenal sebagai bangsa yang berwatak keras dan sangat menyukai peperangan. Keturunan dari Chengis Khan, menebar ketakutan dengan menginvasi setiap daerah yang mereka lalui pada awal periode pertengahan. Beberapa cabang dinasti Mongol berdiri di daerah-daerah taklukkan tersebut. Salah satu Dinasti yang terbesar dan terlama keberadaannya adalah Dinasti Golden Hordé.

    Kemunculan Golden Hordé (Dinasti Kipcak), berasal dari anak cabang Dinasti Mongol yang paling lama berkuasa. mereka membawa kejayaan dalam perdagangan di Asia dan Eropa. Pada masa Ogthai, Putra Chengis Khan, sebagai Khan Agung, terjadi penaklukkan (1236-1237) besar-besaran terhadap lembah Sungai Vulgha dan Siberia, yang dipimpin oleh Batu, anak dari mendiang Jochi (putra Chengis). Dialah (Batu) pendiri Dinasti Kipcak. Salah satu anak cabang dari Dinasti Kipcak inilah yang berpengaruh di Eropa semasa Batu, kemudian hari berasimilasi dengan suku bangsa Turki yang sekarang dikenal sebagai turunan Turki di sana. Kemunculan nama Golden Hordé menurut Spuler, berasal dari kata Sira Wardu yang berarti ‘kemah emas’. Selain itu, warna kulit mereka juga warna emas.

    Negeri yang didirikan Batu pada wilayah kekuasaannya terletak di sebelah selatan Pegunungan Kaukasus yang di sebelah barat dari Laut Hitam dan termasuk negara-negara yang didiami oleh bangsa Slav sampai dengan Polandia Utara. Berke membangun sebuah kota di sekitar Lembah Sungai Embu,  dengan nama Saraī Baru yang berperan sebagai ibu kota. Ibu kota baru ini jaraknya sekitar 65 mil sebelah Timur Laut kota modern, Astrakhan.

   Pada awal kekuasaannya, Batu menaklukan lagi Kerajaan Khawarizam yang telah pernah  ditaklukkan oleh pamannya, Chaghtai. Akhir nya, daerah kekuasaan yang ditinggalkan saat wafat menjadi bertambah lagi, yaitu di antara Stepa Don dan Dniepar, Semananjung Crimea dan Kaukasus Utara. Semanajung Crimea ini terkenal sebagai Constantinople II yang didiami oleh bangsa Qipcak, Rusia, dan Alan Ossetia. Karena letaknya sangat strategis, wilayah tersebut selalu diribut oleh berbagai bangsa untuk menguasainya. 

    Pendiri dinasti ini meninggal dunia (1256) saat Sartak, putra Batu berada di Karakuram. Ketika mendengar kabar ayahnya wafat, ia segera menuju ke Sarai, namun sebelum sampai di sana dalam perjalanan ia berangkat, maka digantikan oleh saudaranya yaitu, Berke pada tahun 1256-1267 M.
                   
    Berke/ Baraka Khan merupakan bagian dari bangsa Mongol yang secara terang-terangan menyatakan dirinya sudah masuk Islam. Karena keterbukaannya dalam mengakui sebagai penganut ajaran Islam, maka banyak orang dan rakyatnya berbondong-bondong mengikuti jejaknya yaitu masuk agama Islam.

 

Pergantian Kepemimpinan 

    Setelah Berke naik takhta, tidak lama kemudian ia berkunjung ke Bukhara. Dalam perjalanan pulang dari Bukhara, kafilahnya diapit oleh dua orang pedagang Muslim. Berke bertanya kepada mereka tentang Islam. Berdasarkan penjelasan-penjelasan dari kedua orang Muslim tersebut, Berke sadar dan secara suka rela dan tanpa paksaan masuk Islam. Menurut sumber lain, dicatat bahwa Berke Khan telah masuk Islam sejak kecil dan setelah dewasa ia diajarkan Al-Qur’an oleh seorang ulama di kota Khoujand. Menurut sumber tersebut, Berke menyatakan masuk Islam pertama kali kepada adiknya yang juga diajaknya untuk memeluk agama Islam.

     Kemudian, Berke Khan bersekutu dengan Sultan Mamluk dari Mesir, Rukunuddin Baybars (1260-1277 M). Saat itu Hulagu menjadi Ilkhan, gubernur di bawah Monggu Khan yang dicatat oleh sejarawan sebagai ancaman bagi dunia Islam dan sebagai tanda persahabatan Berke mengirim 200 tentara Golden Hordé ke Mesir. Berke pernah memprotes keras atas kiriman tentara Ilkhan ke Iraq dengan memberi masukan agar Hulagu Khan segera menarik  tentara dari sana jauh sebelum serangan  Mongol ke Baghdad.

        Hal ini juga berhubungan dengan latar belakang penyerangan Baghdad, adapun salah satu latar belakang penghancuran dan penghapusan pusat Islam Baghdad yang tidak kalah penting adalah gangguan kelompok Asasin yang didirikan oleh Hasan ibn Sabbah jauh sebelum Hulagu Khan (berkuasa pada tahun 1256 M). Hasan ibn Sabbah menghancurkan kota Baghdad yang  mana sebelumnya Hulagu menghancurkan  benteng Asasin, di pegunungan Alamut, Persia utara 35 KM Barat Laut dari kota Qazwin, Iran, sekarang termasuk perbatasan dari Negara Azarbaijan Selatan. 
 
        Setelah beberapa kali penyerangan terhadap kelompok ekstrim, Assasin, akhirnya Hulagu berhasil melumpuhkan pusat kekuatan mereka di Alamut, kemudian menuju ke Baghdad. Sebelumnya Khalifah Abbasiyah, al-Mu’tasim (1242-1258 M), dikirimi surat oleh Hulagu Khan agar Khalifah menyerah. Surat Hulagu jatuh ke tangan wazir al-Qemi yang beraliran Syi’ah yang tidak ingin kerja sama dengan Hulagu Khan untuk membasmi sekte Assasin. Maka wazir balas surat atas nama khalifah dengan bahasa yang kurang baik/kasar yang oleh Hulagu merasa dihina dan tidak diterimanya. Dengan tentara yang banyak, Hulagu menyerang Baghdad pada tahun 1258 M. 
 
        Setahun sebelum penghancuran Baghdad, ada konflik dan perang besar terjadi antara Syi’ah -Sunni di Karkh, di mana orang-orang Syi’ah banyak yang dibantai dan banyak dibunuh oleh kaum Sunni serta rumah-rumah mereka banyak yang diratakan dengan tanah setelah barang-barang berharga dirampas. Hal ini juga menyebabkan tentara Mongol Ilkhan mengepung kota Baghdad selama dua bulan setelah perundingan damai gagal. Akhirnya khalifah menyerah, namun tetap dibunuh oleh Hulagu Khan. Pembantaian massal itu menelan korban sebanyak 800.000 orang. Setelah menghancurkan pusat peradaban Islam, Hulagu menguasai Aleppo dan Suriah , kemudian menuju ke Kairo pusat peradaban Islam II. Namun pada saat itu, Monggu Khan meninggal dunia, maka Hulagu mewakilkan kepada Ketboga sebagai panglima perang dan segera kembali ke Karakuram. Hulagu Khan, sang penghancur Baghdad, menghancurkan tolal kota Baghdad pada tahun 1258 M, kemudian tentaranya menuju ke Mesir di bawah komando Ketboga di ‘Aine­ Jalūt, namun mengalami kekalahan.

    Berke kemudian wafat pada 1267 M, setelah berperang melawan Abaga, putra Hulagu di Tiflis pada
tahun 1266 M. Setelah Berke, penguasa Golden Hordé adalah :
    1. Mongke Timūr (1267-1280), 
    2. Tuda Mongke (1280-1287),
    3. Tula Bugha (1287-1290), dan
    4. Tokhtu/ Tokhtagha (1290-1313)

    Periode pasca Berke tersebut tidak ada yang istimewa dan jarang dijumpai dalam sumber. Selanjutnya kemanakan Tokhtu dan putra dari Toghrilcha, Uzbek Khan naik di Singgasana Saraī Baru (1313 M). Para misionari Kristen telah gagal menarik umat Islam ke agama tersebut pada masa Ilkhan (Islam ). Mereka berusaha membujuk orang-orang Mongol, para khan dari Golden Hordé termasuk Uzbeg Khan yang semula  seorang pagan, namun gagal. Akhirnya  Uzbeg Khan memutuskan untuk memeluk agama Islam dan dicatat sebagai seorang Muslim sejati yang sangat kuat. Periode ini dicatat sebagai masa kejayaan Golden Hordé. Setelah masuk Islam, Uzbeg memakai nama Ghias al-Din Uzbeg Khan. Para khan dari Golden Hordé seperti Berke atau Tuda Mongke masuk Islam tapi banyak rakyat Golden Hordé masih tetap pagan. Ghias al-Din bukan hanya secara pribadi memeluk agama Islam, tetapi ia menjadikan orang-orang Mongol dari dinasti tersebut semuanya menjadi Muslim. Pada dekade II dari Abad XIV M, orang-orang Mongol yang konversi (berganti memeluk) Islam jumlahnya paling banyak, sehingga tidak ada lagi orang pagan di kalangan Dinasti Kipcak. Walaupun Uzbeg seorang Muslim sejati namun ia seorang pluralis yang menghormati agama-agama lain. Pada masanya, ia menyambung persahabatan dengan dunia Kristen, walaupun pope merasa  kecewa karena usaha para misionari gagal untuk mengajaknya ke agama mereka. Muhammad Ghias al-Din Uzbeg Khan berkuasa selama 28 tahun, periodenya dicatat dalam sejarah sebagai masa kejayaan Golden Hordé. Keturunannya semua Muslim dan mendirikan Dinasti Tatar di Rusia.

 

Masa Kemunduran Golden Hordé

    Setelah Uzbeg, putra mahkota, Tini Beg mengantikan ayahnya. Pada periodenya, ibu negara yang beragama Kristen sangat mempengaruhi istana. Akhirnya Tini Beg sendiri menyatakan diri masuk Kristen di  hadapan istrinya. Dengan masuknnya Beg  sebagai pemeluk agama Kristen, putra dari penguasa Muslim yang paling baik dalam Golden Hordé, yaitu Uzbeg Khan yang seumur hidup mencurahkan tenaganya untuk Islam, maka rakyat memberontak yang akhir nya Tini Beg lengser dari jabatannya sebagai penguasa dan dibunuh oleh saudara bungsunya, Jani Beg pada tahun 1342 M. Masa pemerintahannya hanya bertahan sekitar satu tahun. Penggantinya, Jani Beg seorang Muslim yang taat dan penguasa yang kuat. Ia berusaha mempromosikan Islam di kalangan rakyat yang sudah pindah agama.
  
  Pada masa tersebut tersebarlah penyakit menular. Jani Beg memimpin ekspedisi melawan Ilkhan Persia, tentara Golden Hordé sebanyak 300.000 orang, melumpuhkan arah selatan melaui Kaukasus dan akhirnya kota Tabriz. Selanjutnya ibu kota Azarbaijan jatuh di tangan Jani Beg. Beg kembali ke Saraī Baru dan mendadak meninggal dunia (1357) karena mendadak jatuh sakit (menular).

    Setelah Jani Beg meninggal dunia, terjadi anarkis secara nasional akibat perang saudara di istana Saraī Baru. Untuk merebut kursi kekuasaan dalam keluarga Jochi, pendiri Dinasti Kipcak. Revolusi di istana dan asasinasi di mana-mana terjadi. Kulpa, saudara kandung Birdi Beg, memegang kekuasaan periode1359-1360 M. Kemudian saudara yang lain, Nawroz, menduduki kekuasaan selama tahun 1360-1361, maka habislah rangkaian/turunan Batu Khan dalam kekuasaan politik Golden Hordé Hingga kemudian mucul penguasa baru,  yaitu Mamai. Pada tahun 1378 Mamai, memimpin ekspedisi ke Moscow. Perang/konfrontasi pecah di tepi Sungai Vogh, anak sungai Oka. Tentara Golden Hordé kalah dan Mamai menarik tentara  ke Saraī Baru.

    Setelah melakukan beberapa peperangan dan terus mengalami kekalahan, kemudian Dinasti Golden Hordé  ini mengalami kemunduran karena adanya konflik internal yang sangat parah. Namun kekalahan tersebut tidak serta merta memadamkan sinar kekuasaan Dinasti Kipcak. Munculnya Tokhtamis membawa obor harapan baru di kalangan Mongol Islam yang merupakan keturunan dari Wardah  (saudara Batu) yang duduk di Saraī Baru. Munculnya pangeran Tokhtamis dari cabang Mongol, White Hordé, dari Siberia dengan bantuan Amir Timûr Lâng, sebagai penguasa Istana Saraī Baru, mengepung kota Moscow dan Duke dan memaksa membayar pajak serta tunduk kepada Islam. Di sinilah ia dicap sebagai pendiri Golden Hordé yang kedua kali. Namun keberuntungan ini tidak bertahan lama. 
 
    Tokhtamis tidak tahu terima kasih bahwa karena Timûrlah ia dapat berkuasa. Saat Timûr tidak ada di Transoxiana, Tokhtamis menyerang secara sepihak wilayah tersebut dengan alasan bahwa Timûr telah mengambil wilayah Khawarizam (sekitar Transoxiana) yang sebenarnya adalah  wilayah kekuasaan Golden Hordé. Timûr Lâng malah memutarbalikan fakta dengan alasan bahwa wilayah Khawarizam adalah milik Dinasti Chaghtai yang diambil oleh  Golden Hordé. Timûr Lâng sangat gusar atas  sikap pengkhianatannya, akhirnya ia sendiri datang melawati pegunungan Kaukasus dan berhadapan dengan Tokhtamis pada tahun 1390 M. Tentara Timûr segera masuk kota Moscow dan merampas serta mengadakan pembunuhan massal. Akan tetapi, ia tidak punya niat untuk berkuasa atas Rusia / Saraī Baru secara langsung. Ia mendudukan seorang dari kalangan Golden Hordé sebagai penguasa, sebagai boneka Timûr di Saraī Baru. Akibat kekalahan ini maka lonceng keruntuhan kekuatan Golden Hordé mulai berdenting.

    Tokhtamis wafat pada tahun 1404 M. Dengan demikian, bersamaan jatuhnya Saraī Baru dan meninggalnya Tokhtamis, mulailah muncul Rusia sebagai kekuatan baru di Asia-Eropa, sedang di Eropa Timur Islam sudah memasuki masa kemunduran bagi Golden Hordé.

     Setelah Tokhtamis, muncul perebutan kekuasaan berdarah dari suku-suku Mongol, baik Islam maupun non-Islam di antara khankhan. Idikhu Khan, penguasa Noghay, yang  berhasil menaklukkan Saraī Baru menjadi penguasa baik dan berhasil yang terakhir di kalangan Golden Hordé. Idikhu mengalahkan pangeran Lithuania dan berhasil mengembalikan kejayaan Dinasti Kipcak. Akan tetapi, pasca wafatnya Idhiku Khan (1419 M), Dinasti Kipcak ini mulai lemah. Golden Hordé yang begitu luas dan besar mulai menyempit dan terpecah-pecah akibat pertikaian sengit di kalangan pangeran Golden Hordé dan Mongol yang lain. Mereka berlomba-lomba untuk merebut dan menguasai takhta di daerah Asia Tengah termasuk Rusia sekarang.

    Dengan kelemahan interen Golden Hordé, maka para Duke dari Moscow dan Lithuania mengambil kesempatan kemudian menyerang bertubi-tubi yang melumpuhkan kekuatan Islam. Namun demikian, kekuasaan Golden Hordé bertahan sampai abad XVI M, yang terkurung di sekitar istana Saraī Baru akibat lemahnya para penguasa. Sebagai catatan, dengan jatuhnya kota Saraī Baru oleh Timûr Lang (1395 ) sebagai sebuah tragedi yang sama seperti jatuhnya Baghdad  atau jatuhnya Granada tahun 1492 M. Yang  paling menyedihkan adalah jatuhnya Saraī Baru yang menyebabkan peradaban Islam hancur di tangan Islam pula dan selanjutnya pada tahun 1502 M Golden Hordé ditaklukan oleh Rusia. Akhirnya pada tahun 1502, Golden Hordé yang lemah dan pincang pun ditaklukkan oleh Rusia, maka habislah riwayat kekuatan  dan kejayaan Islam di Rusia selamanya.

 

Hasil Kemajuan dalam Pemerintahan

    Pada masa kekuasaan Golden Horde′, di sekitar Lembah Sungai Embu dan Ural (danau), dibangunnya sebuah kota yang menarik dan indah, dengan nama Saraī yang menjadi ibu kota dinasti tersebut. Pada masa Golden Hordé, para pedagang Itali mendominasi dan memainkan peranan penting dalam dunia perdagangan. 

    Berke adalah seorang politikus yang ulung ketika adanya ancaman Mongol dari cabang lain ( Ilkhan ). Di antara penguasa dunia, Berke merupakan penguasa terbaik pada Abad XIII M. Perlu dicatat bahwa daerah-daerah yang jauh dari ibu kota tetap memerintah sendiri. Sebagai pengakuan kedaulatan Berke, mereka membayar pajak kepada Golden Hordé. Berke secara resmi menghapuskan Yassaq dan digantinya dengan Syari’at Islam. Pendiri Saraī Baru ini terkenal dalam sejarah sebagai pelindung Islam yang banyak membangun madrasah, masjid, dan monument-monumen yang indah.

    Pada masa Uzbeg Khan, seseorang yang semula Pagan akhirnya memeluk agama Islam dan dicatat sebagai seorang Muslim sejati yang sangat kuat. Pada masa periode inilah dicatat sebagai masa kejayaan Golden Hordé. Pada masa Uzbeg, administrasi kenegeraan diterapkan sesuai dengan Syari’at Islam. Semua peraturan negara menggunakan hukum Islam dengan menggantikan Yassaq secara total dan mulai diterapkan pada masa Berke. Inilah catatan emas dalam sejarah Mongol dan Rusia. Uzbeg Khan pengemar kesenian dan sastra. Pada masanya, suasana kehidupan dengan budaya sangat tinggi terwujud. Uzbeg juga mendirikan banyak bangunan yang indah, termasuk  banyak masjid dan sekolah. Perdagangan  pada masa Uzbeg maju pesat. Para pedagang datang dari berbagai penjuru dunia, termasuk dari China dengan melewati Laut Baltik. 

    Periode Golden Horde′ inilah juga masa keemasan ilmu pengetahuan di bidang astronomi. Patut dicatat bahwa pada periode nya ini menjadi Negara Islam yang paling sempurna. Yang dimaksud dengan Islam yang sempurna ialah jasa-jasa dan perhatian Uzbeg Khan terhadap penegakan aturan-aturan Islam di kalangan Mongol yang paling patut dipuji, lebih-lebih di kalangan Golden Horde′.

            

Sumber : Jurnal Kawistara, Vol.7 No 2, 17 Agustus 2016, Hal. 113-224, "Dinasti Golden Horde′ Pembacaan Historis Terhadap Kekuasaan Mongol Islam di Asia Tengah" - M. Abdul Karim.


Selasa, 09 April 2019

Ketika...


     Ini adalah sepotong kisah yang kutemukan dari sebuah website. Kalian boleh mengartikannya dalam bentuk yang lain, tapi kuharap kita sama-sama mengartikannya sebagai sebuah rangkaian kata penguat semangat. Semangat untuk terus bermimpi, semangat untuk terus berusaha.



Meja Telepon Ibu
by: Siti Horiah (*)

   Disudut ruang tamu kami, yang luasnya tidak lebih dari 4m2 itu terletak sebuah meja kecil berwarna hitam. Meja itu adalah sebuah meja telepon rumah yang sudah beralih fungsi sebagai meja belajarku. Meja itu adalah satu-satunya meja yang ada di rumah kami, meja yang sampai saat ini masih dibiarkan ibuku tetap berdiri tegak dan masih tetap berada dirumah kami dengan sebuah alasan yang tak aku ketahui.
    Beginilah kondisi rumah kami setelah peristiwa kebangkrutan usaha ayahku. Demi menyambung nyawa keluarga kami, ibu rela menjual barang-barang berharga yanga ada di rumah kami pada tetangga sekitar. Ibuku tidak tahu lagi harus berbuat apa, dan tidak tahu lagi bagaimana caranya mendapatkan uang untuk membeli beras. Beliau menjual satu persatu barang-barang berharga kami, setiap kali datang waktu makan. Mulai dari beberapa pakaian ibuku yang paling beliau suka, alat-alat dapur seperti gelas, piring, panci, dispenser, bahkan sendok dan garpu pun ikut habis terjual.
    Ayahku tidak dapat berbuat banyak setelah peristiwa kebangkrutan usahanya. Beliau hanya mampu menjadi kuli dipasar tradisional di kota kami. Upah yang dia terima tidak mampu menutupi kebutuhan keluarga besar kami.
***
    Suatu siang, aku melihat adikku Rafi menangis sambil menghampiri ibu yang sedang duduk lemas menonton tv tanpa antena itu. Aku memperhatikan gerak-gerik ibu yang kepanikan, beliau tidak ingin membiarkan Rafi adikku menangis terlalu lama.
“ibu, ibu aku lapar!” jerit Rafi.
   Ibu yang tak bisa berkata apa-apa langsung pergi menuju dapur, mengambil beberapa piring. Aku pun terus memperhatikan gerak-gerik ibu. Aku heran apa yang akan ibu lakukan dengan kelima buah piring itu. Sempat aku berpikir kalau ibu akan mengambilkan nasi untuk Rafi, namun aku teringat kalau dari kemarin aku belum memasak nasi untuk keluarga kami. Dengan masih tetap memperhatikannya dari balik pintu, aku melihat air mata ibuku jatuh berlinang membasahi pipinya yang pucat, namun dengan cepat beliau langsung menghapusnya takut-takut kalau air matanya akan terlihat olehku. Aku pura-pura tidak sadar dengan apa yang ibu lakukan didapur, aku menyibukan diriku dengan menggendong dan menimang Rafi agar dia tidak menangis.
    Kubiarkan ibu dengan kesibukannya, kulihat beliau keluar rumah dengan kelima piringnya itu. Tak beberapa lama kemudian beliau kembali dengan uang ribuan yang lusuh sebanyak lima lembar. Aku terheran-heran atas apa yang ibu lakukan. Ibu langsung menyuruhku pergi kewarung membeli setengah liter beras, dan satu butir telur. Tanpa berpikir panjang aku pun langsung pergi menuruti perintah ibu.
   Aku kembali dengan apa yang ibu minta dan ibu langsung menyuruhku memasaknya. Ibu menyuruhku membuat telur dadar dengan mencampurkan telur itu dengan terigu, agar satu telur itu menjadi besar dan cukup untuk dimakan oleh kami bersembilan. Aku menarik napas dalam-dalam, air mataku pun tak kuat dibendung, menetes jatuh. Aku tak kuat menahan ini semua, bagaimana tidak, setiap harinya kami hanya makan satu kali sehari. Berbagi setengah liter nasi untuk sembilan orang, satu butir telur saja harus dibagi sembilan, sering kamipun membagi 2 bungkus mie instans untuk sembilan orang. Terkadang ayah memilih pergi dari rumah saat tiba waktu makan, beliau pergi sambil menitip pesan padaku agar jatah makanannya diberikan pada adik-adikku saja.
    Ibu sangat sayang pada kami, beliau tidak pernah membagi penderitaanya pada kami semua. Selagi ayah menjadi kuli dipasar, ibu selalu menggantikan peran ayah. Ibu tak pernah terlihat sedih dengan penderitaanya. Ibu rela berkorban demi kami semua. Ibu rela menjual tempat tidurnya dan memilih tidur dilantai dengan beralaskan kasur yang tipis saja.
    Hampir seluruh barang berharga dirumah kami terpaksa beliau jual, demi menutupi pendapatan ayah yang besarnya tak kurang dari sepuluh ribu rupiah. Hanya satu buah meja telepon yang ibu sisakan diruang tamu kami. Aku heran kenapa ibu tidak pernah mau menjual meja tersebut, beliau lebih memilih menjual beberapa pakaiannya ketimbang menjual meja tersebut. Sampai pada saatnya aku tak sanggup melihat pakaian terbaik ibu harus ikut terjual, akupun menawarkan meja telepon itu untuk dijual pada ibu. Namun ibu menolak dengan kata-kata yang membuatku menangis sendiri.

“Selapar apapun kita nanti, ibu tidak akan menjual tempat yang kau gunakan untuk mengantungkan cita-citamu itu nak, pakailah terus meja itu.” Ungkapnya sambil pergi kerumah tetangga untuk menjual baju terbaiknya selama ini, demi sepiring nasi untuk keenam adikku.
    Aku lemas mendengarnya, jadi selama ini ibu tidak mau menjualnya hanya karena aku sering memakai meja yang panjangnya tidak lebih dari 30 cm itu untuk belajar. Aku tersadar selama ini aku memang selalu menggunakan meja itu untuk belajar karena itu adalah satu-satunya meja yang ada dirumah kami.
     Itulah kondisi yang selama ini aku alami, tak ada yang bisa aku lakukan banyak ketika itu. Saat itu kondisinya aku sedang duduk dikelas tiga. Ditengah kondisi seperti ini aku harus tetap berjuang untuk bisa lulus SMA. Setiap malam aku bangun untuk belajar dan mengerjakan tugas, aku menggunakan meja telepon itu sebagai alasku belajar. Terbayang betapa menderitanya belajar di atas meja yang luasnya lebih kecil dari luas buku tulisku. Namun tidak ada pilihan lain bagiku, aku tak mampu menunduk lama untuk belajar bila memilih belajar diatas lantai yang dingin. Meja itu adalah teman terbaik bagiku. Dia selalu menemaniku dimalam hari disaat semua orang terlelap, aku harus bangun untuk belajar. Semua itu aku lakukan karena aku tidak memiliki waktu disiang hari untuk belajar.
    Benar kata ibuku meja itu adalah tempat aku menggantungkan semua cita-citaku. Tempat aku memulai perubahan pada hidup keluargaku. Ibuku berharap besar padaku, karena aku adalah anak pertama. Jadi setelah aku lulus SMA nanti aku bisa langsung bekerja, dan ibu optimis terhadap diriku kalau aku nanti akan mendapatkan pekerjaan yang layak. Karena ibu tahu aku termasuk murid yang berprestasi disekolah.
    Tanpa disadari aku memang menyayangi meja kecil hitam itu, meja itu selalu aku bersihkan setiap harinya, walaupun meja itu kecil dan sempit tapi aku masih bersyukur bisa tetap menulis diatas meja. Meja itu adalah satu-satunya tempat aku berbagi rahasia, tempat aku mengukir sebuah mimpi. Hanya meja itu yang menjadi saksi kalau aku memiliki sebuah mimpi yang selama ini aku rahasiakan dari dunia.
    Aku punya sebuah mimpi yang benar-benar tidak bisa aku ungkapkan pada siapapun. Aku takut kalau mimpiku yang satu ini kuberitahu pada orang tuaku itu akan menjadi beban padanya, kalau aku beritahu pada teman-teman atau orang banyak aku takut mimpiku yang ini akan ditertawakan mereka. Jadi selama ini hanya meja kecil ini yang bersaksi kalau aku sering mengukir sebuah nama Universitas yang aku impikan pada catatan sekolahku. Ya, mimpiku yang tidak dapat aku beritahukan kepada siapa pun termasuk orang tuaku sendiri adalah duduk di bangku KULIAH.
Sebenarnya setiap kali orang tuaku membahas tentang pekerjaan yang nantinya aku lakoni setelah lulus SMA, hati kecilku menangis merintih tak terdengar siapapun.
“ayah, mama, aku gak mau kerja aku mau kuliah kaya temen-temen, aku mau masuk UGM aku mau ke Jogja, aku gak bisa KERJA!” jerit hati kecil ini.
***
    Saat-saat seperti ini semua teman-temanku sibuk mencari tempat bimbel yang terbaik dikota kami, sebagai salah satu persiapan sebelum menghadapi SNMPTN. Bagi seorang Siti Horiah jangankan mengikuti program bimbel, buku paduan SNMPTN saja tak punya. Aku tak pernah memiliki niat untuk membeli buku SNMPTN yang harganya selangit itu. Untuk makan adik-adiku saja setiap subhu aku dan ibu masih harus keliling pasar untuk menjajakan kue cucur buatan ibuku. Bagaimana aku mau menabung, uang jajan yang ibu berikan itu hanya sebesar tiga ribu rupiah saja, itupun hanya cukup untuk ongkos naik angkutan umum. Kalau kue kami tidak terjual satupun itu berarti aku harus berjalan kaki sejauh 3 km untuk sekolah. Aku tak sanggup meminta uang sepeserpun unutuk membeli buku SNMPTN pada ayahku yang menjadi kuli dipasar, apalagi berkata pada ayah kalau aku ingin kuliah ke JOGJA. Sudahlah bagiku kuliah adalah mimpi-mimpi basi seorang siswa SMA kelas 3 seperti aku ini.
    Itulah sebabnya aku menyembunyikan mimpi besar hidupku ini dari orang banyak. Bagiku mimpi ini hanya akan menjadi pisau kecil bagi keluarga kami. Mimpi yang akan menusuk dan mengiris perasaan kedua orang tuaku. Tak pernah sekalipun aku berniat untuk mengkhayal menduduki bangku kuliah. Aku takut kalau kedua orang tuaku tahu tentang mimpi ini, mereka pasti akan merasa kalau mereka bukan orang tua yang baik, orang tua yang tidak bisa membahagiakan anak-anaknya. Biarlah mimpiku yang ini hanya aku, meja kecil itu dan Tuhan yang tahu.
***
    Sahabatku Ana selalu ada untukku, memberika support. Cita-citanya menjadi dokter membuat aku tersenyum miris sendiri. Aku selalu berpikir kenapa aku tidak seberani dirinya bermimpi dan bercita-cita. Namun aku sadar aku tidak seperti dirinya, aku bukan anak siapa-siapa yang boleh bermimpi setinggi itu. Kalau kata adikku yang pertama “MIMPI ITU MAHAL KAK!” buat bermimpi saja itu sulit apa lagi merealisasikannya pada kenyataan. Sesulit itukah bermimpi pikirku kalau mimpi saja dianalogikan dan disamakan dengan kata mahal. Kata-kata yang membuat keluarga miskin seperti kami gempar mendengarnya. Kata mahal itu bagi kami berarti mustahil dijangkau. Maklumlah, bagi keluarga miskin seperti kami harga sebutir telur naik seratus rupiah pun sudah membuat kepala ayahku sakit.
    Saat aku berkunjung kerumah Ana, orang tuanya memberikanku uang sebesar seratus ribu rupiah. Tanganku gemetar menerimanya. Orang tua Ana memberikan uang itu untuk aku gunakan sebagai ongkos pulang kerumah, yang pada kenyataannya ongkos yang aku gunakan hanya empat ribu rupiah. Setelah kuputuskan sisa uang tersebut kuberanikan saja untuk kubelikan sebuah buku SNMPTN bekas dipasar. Agar harganya tidak mahal dan aku dapat memberikan sisa uangnya pada ibuku. Aku sangat senang sekali saat itu, aku berpikir walaupun aku tak ada niat untuk kuliah namun apa salahnya kalau aku juga ikut menimba ilmu seperti teman-temanku.
***
“Kamu mau kuliah?” sahut ayahku didepan ibu dan adik-adiku.
    Aku kaget bukan main terhadap pertanyaan itu, dari mana ayah tahu mimpi yang aku sembunyikan dari dunia itu, mimpi yang tidak pernah terucap oleh lidahku sendiri walau dalam doa di sholatku, mimpi yang hanya ikut mengalir bersama air mata sebelum tidurku, mimpi yang bahkan akupun sendiri malu bercerita pada Tuhan. Ternyata ayah menyadari hal itu semua karena buku SNMPTN yang baru aku beli kemarin ku letakan diatas meja kecil hitam itu. Ibuku yang hanya lulusan SD menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan ayah. Ibu marah mendengar hal itu, ibu menyuruhku mengubur mimpi tersebut, ibu takut kalau nantinya aku stress karena mimpiku yang ini tidak akan pernah terwujud. Aku tertunduk menangis, adik-adiku iba melihat kearahku. Ayah menenangkanku tersenyum padaku, ayah berkata padaku agar aku belajar yang baik dan mencari tempat kuliah yang aku inginkan. Ayah berkata kalau beliau akan berusaha mati-matian agar aku bisa kuliah. Aku tersenyum melihat ayah yang bijak berkata seperti itu, entahlah aku sempat berpikir kalau ayah hanya ingin menenangkan diriku saja.
***
    Suatu sore saat aku sedang menyapu halaman rumah, seorang ibu yang sebaya dengan ibuku menegurku.
“kamu mau kuliah yah neng?”. Tegurnya sambil tertawa kecil.
    Aku kaget dibuatnya, Ibu itu berkata kalau kemarin ibuku bercerita pada dirinya bahwa aku merengek meminta meneruskan sekolah. Ibu itu menasihati diriku, dia berkata padaku kalau kita sebagai orang susah jangan ‘kebanyakan tingkah’, aku sebagi anak pertama jangan menyusahkan kedua orangtua dengan merengek-rengek minta kuliah. Kuliah itu mahal katanya, upah ayahmu itu tidak cukup untuk makan dua kali sehari, apalagi untuk biaya kuliah. Kasihan adikmu ada banyak mau makan apa mereka.
   Hatiku bergetar, ingin rasanya aku membentaknya. Namun aku hanya mampu membalas perkataannya dengan senyum termanis yang aku miliki.
Keesokan harinya ibuku bercerita, kalau teman-teman ayahku dipasar itu mengolok-olok ayahku karena ayahku bercerita pada mereka kalau aku ingin kuliah. Mereka berkata pada ayahku kalau tidak akan ada universitas yang mau menerima orang miskin seperti aku ini.
    Aku berlari menuju meja kecil hitam di ruang tamuku, ku buka buku catatanku yang pernah kutulisi tulisan grafiti nama sebuah universitas impianku. Kurobek dan kulempar bukunya, aku marah saat itu. Karena orang yang paling aku sayang itu dihina oleh orang lain, dicaci maki. Aku tersadar kalau itu semua karena mimpi ‘konyolku’ berkuliah. Itulah sebabnya selama ini aku malu dan memutuskan untuk menguburkan niat dan impianku berkuliah sedalam-dalamnya. Sudah kukira akan berakhir dengan penghinaan kedua orangtuaku seperti ini. Aku kesal, orang tuaku dihina seperti itu. Aku malu karena itu semua adalah ulah dari mimpi tidur indahku.

***

Keesokan harinya disekolah teman-temanku bersorak dan memanggilku.
“Selamat yah sit, lu masuk daftar undangan SNMPTN tuh!” ucap Lidia
    Jantungku bergetar, aku tak percaya kalau namaku bisa masuk dalam jajaran murid-murid pintar yang bisa mengikuti SNMPTN undangan. Aku pun girang bukan main, ku hampiri guru bimbingan konselingku. Aku menceritakan masalah keluargaku selama ini, awalnya aku tak mau bercerita namun karena mimpiku berkuliah saat ini sudah ada di depan pelupuk mata. Maka akupun memutuskan untuk menceritakan semuanya agar aku mendapatkan jalan keluar yang terbaik.
    Guruku itu langsung memeluk tubuhku yang kaku, dia memiliki impian besar terhadap diriku. Dia mencarikan solusi untuk masalahku ini dengan menawarkan beasiswa BIDIKMISI. Tanpa berpikir panjang aku menyetuji ajakannya. Aku pulang kerumah dan menyiapkan berkas-berkas yang ada, saat itu aku merasa bersyukur sekali karena impianku yang kurasa buruk itu akan segera terwujud. Aku sengaja tidak memberitahu informasi ini pada kedua orangtuaku, aku ingin membuat semua ini menjadi kejutan bagi mereka.
    Segala macam persyaratan pendaftaran SNMPTN itu pun telah dipenuhi, aku memutuskan untuk memilih UNIVERSITAS GADJAH MADA dan prodi TEKNIK NUKLIR pada pilihan pertama. Entahlah dengan hanya bermodal menyukai kimia dan fisika. Maka aku putuskan untuk memilih program studi ini. Besar harapanku untuk diterima. Setelah semuanya selesai , baru ku beritahu ayah dan mama. Mereka sangat senang karena beasiswa Bidik Misi ini mereka berdua tidak perlu mengeluarkan uang sampai aku lulus nanti. Kedua orang tuaku pun senang dengan pilihan program studi yang aku pilih itu. Semuanya tinggal ku pasrahkan pada Tuhan. Kalau memang rezeki aku pasti akan mendaptkannya pesan ayah padaku yang selalu ku ingat. Aku senang dan aku ingin membuktikan pada semua orang yang telah menghina mimpiku. Aku ingin membuktikan kalau impianku ini akan segera terwujud.
***
    Dua bulan lamanya aku menunggu pengumuman, selama itu aku mempersiapkan diriku untuk bisa mengikuti SNMPTN tulis, aku belajar sedikit demi sedikit dari buku soal-soal SNMPTN yang aku miliki. Semangatku berkuliah setiap harinya semakin kencang. Ditengah-tengah semangatku ini, masih saja ada tetangga yang mengolok-olok mimpiku. Ada tetangga yang berkata pada ibuku seperti ini.
“Hati-hati bu, itu anaknya bukan mau kuliah tapi mau jual diri.” Ucapnya sinis
Ingin rasanya aku menampar orang yang berbicara seperti itu pada ibuku, tapi ibuku menyadarkanku kalau ucapan mereka adalah batu loncatan bagi prestasiku. Aku harus tetap rajin belajar dan membuktikan pada dunia kalau mimpiku itu akan mengubah dunia menjadi lebih baik.
***
    Semua hinaan, cacian maki tetangga-tetangga sampai saudara-saudara terdekat kami kemarin terhadap mimpi besarku, kini lenyap sudah. Air mata kedua orang tuaku kini warnanya berubah sebening permata, keringatnya yang bercucuran itu menjadi keringat kebanggaan mereka terhadapku, simpulan senyum guru-guruku mengguratkan harapan besar padaku. Ya, aku diterima di Universitas kerakyatan yang menjadi kebanggaan negara ini. Universitas bergengsi dan nomor satu terbaik di Negeri ini. Gadjah Mada namanya, di sana namaku tertera di Teknik Nuklir. Program studi sarjana Nuklir satu-satunya di ASEAN dan memiliki lulusan terbaik se-Asia.
    Aku tak bisa berkata apa-apa, melihat kebahagiaan kedua orang tuaku. Melihat mimpiku yang kini menjadi nyata, mimpi yang tak pernah berani aku ungkapkan pada dunia. Mimpi yang tak seharusnya aku tutupi dari orang lain. Sekarang aku sadar kalau semua itu memang berasal dari mimpi. Mimpi yang bukan hanya sekedar mimpi, mimpi yang harus segera diwujudkan, bukan dibiarkan tetap tidur bersama angan-angan semata. Aku pun tersadar sekarang kalau tak ada satupun hal yang mustahil dalam hidup ini, aku masih memiliki Allah. Tuhanku yang tak pernah tidur, yang selalu mau mendengarkan mimpi kecil kita. Aku tak akan menyia-nyiakan amanat besarmu ini Tuhan. Aku tersenyum mengingat semua pengorbanan aku dan kedua orangtuaku demi mimpi manis ini kemarin. Terimakasih meja kecilku yang setia menemaniku merogoh mimpi ini. Terimakasih Tuhan mengijinkanku merajut asa ini untuk meraih impian.
 (*) Siti Horiah mahasiswa dari Program Studi Teknik Nuklir 2012 mendapat penghargaan sebagai pemenang pertama dalam Lomba Menulis Kisah Inspiratif Kamakarya 2013 yang diadakan dalam rangkaian acara Seminar Motivasi Nasional oleh divisi keilmuan Kamadiksi dalam rangka meningkatkan motivasi penerima beasiswa Bidik Misi. Acara yang memiliki tema “Menembus Batas, Memetik untaian mimpi ” ini diselenggarakan pada hari Minggu, 7 April 2013 bertempat di Gedung Graha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada dengan pembicara Dr. Revrisond Baswir (pakar Ekonomi Kerakyatan), Dr. Widyo Winarso (Kepala Subdirektorat Kemahasiswaan DIKTI) dan Bapak Eko Prasetyo. Talkshow dengan narasumber tersebut sangat menginspirasi dan memotivasi para peserta seminar yang jumlahnya kurang lebih 1100 orang, di mana para peserta tersebut didominasi oleh mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi UGM ditambah dari universitas lain di sekitar Yogyakarta.
     Dalam Lomba Menulis Kisah Inspiratif Kamakarya 2013 ini, peserta wajib menuliskan kisah nyata perjuangan mereka dalam merajut asa dan meraih impiannya masing-masing. Kisah yang harus menginspirasi banyak orang nantinya, kisah yang dapat memberikan gambaran banyak orang betapa kita tak boleh berputus asa dalam meraih impian. Siti Horiah sendiri mengaku bahwa dirinya tidak menyangka dapat memenangkan lomba kepenulisan ini, karena latar belakang jurusan sebagai anak teknik yang harus bersaing dengan orang-orang hebat yang memang bergelut dalam bidang kepenulisan. Namun tanpa disangka dirinya dapat berprestasi dan bisa produktif dalam menghasilkan cipta dan karya yang terbaik. Inspirasi dan bakat itu memang akan selalu ada dalam diri seseorang tanpa terkecuali selagi ada motivasi yang kuat dalam diri untuk menciptakan karya terbaik untuk bangsa ini.

Source: http://tf.ugm.ac.id/index.php/14-prestasi/112-mahasiswa-teknik-fisika-ft-ugm-memenangi-lomba-menulis-kisah-inspiratif-kamakarya-2013
Direpost oleh Parmantos, Mahasiswa Master di IZTECH Izmir dan salah satu penggagas Dunia Menginspirasi (https://www.facebook.com/DuniaMenginspirasi) .

Minggu, 03 Februari 2019

Alur Waktu





my sweet second family


Dia makin mundur berlalu
Melewati sulur sulur waktu
Melintasi jalan yang mengabur
Saksi sabar dan syukur

Tuhan berbisik lewat angin
Berjanji penuhi ingin
Dikirimnya malaikat
Tanda sayang teramat

Membantuku berdiri
Mengajakku berlari
Jajaki mimpi tanpa tepi
Menjadi lebih berarti

Hati merangkai kata
menyalurkan rasa
Euforia yang menyapa
Terima kasih dalam doa

Untuk sahabat paling berharga
Hadiah paling bermakna

#delapanbelastahunkini

Makasih banyak buat kalian, kalian terdabesst lah
Lokal 4 Fakir Ilmu
P.s kalau kalian nyariin gua, ada tangan lagi peace sign di belakang, nah itu dia, hehe.

Sabtu, 02 Februari 2019

Inginku

Teman-temanku amatlah hebat
Mereka bersama memulai hal yang baru
Bereksperimen layaknya sang ilmuwan
Entah itu dengan ubi jalar
Singkong dan pisang
Akupun ingin
Tapi terlampau malas mengaduk adonan

Aku lebih suka duduk diam
Entah dengan pikiran yang meliar
Tangan yang lincah menulis
Atau imajinasi yang meletup seperti
Caramel di atas panci

Di temani layar silau dan kudapan di meja
Dan terkantuk di kala senja
Lalu kembali berkutat dengan malam

Tapi kata arif itu pemalasan
Aku hanya tersenyum
Dan Genji setuju

Jumat, 01 Februari 2019

Tentu Tidak

Ketika kau melihatku berbeda
lantas kenapa
apakah harus sama
lalu bagaimana

Haruskah aku terlarut
ikut menghanyut
dalam masalah yang kalut
gundah yang menggelayut

Bisa ataupun tidak
bukan kau yang bertindak
aku harus tetap berpijak
tanpa mengelak

#abuabu
Sudut Hati, 3 Januari 2019

Senin, 14 Januari 2019

Alasan kemunculan 'The Little Box'

Bismillah...

       Setelah berabad-abad blog ini nganggur - eh, dianggurin - , tangan saya akhirnya gatel juga pengin nulis ahahaha. Habisnya saya ngga tau mau ngapain setelah bikin blog kayak gini, ehe. Awalnya sih saya pengin ngisi blog ini dengan fanfiction karangan saya, soalnya dulu saya pernah terjangkit virus Negeri Gingseng alias Kpop - Hahah - . Akibat suka halu sembarangan jadi malah pengin bikin fanfict, tapi ya, niat cuma jadi niat, :') . Saya cuma nulis setengah jalan karena sering kena writer's block dan - saya ngaku - kurang produktif, bahkan sangat tidak produktif alias mageran. Saya bisa aja lanjut tapi karena naskahnya udah lama dianggurin jadi ya males banget - bahkan buku naskahnya hilang :'v -.

       Jadi, ngga jadi, haha. Dan blog ini pun sebenernya udah saya bikin sejak 4 tahun yang lalu :') - parah banget baru nge post tahun ini - . Akhirnya saya ganti haluan deh, setelah tadinya mau nulis fanfcit disini, saya pengen jadiin blog ini lembaran kertas digital, haha. Mengingat saya orang yang introvert tapi baperan, membuat saya jadi ngga bisa mengutarakan apa yang di rasakan lewat kata - kata, saya lebih fasih nulis daripada bicara. Dan ada satu alasan lain yang bikin saya mau blog ini aktif, yaitu seseorang - ehem - , ya dia bukan siapa - siapa sih tapi saya kagum sama dia dan saya pengen banget bisa berinteraksi sama dia. Tapi, dia cuma akan merespons apa yang saya minta - interaksi - hanya lewat blog, itu bikin saya galau - huhu - saya pengen bisa interaksi sama dia lewat akun lain, tapi dia hanya menyanggupinya lewat email yang berkomentar tentang apa yang saya tulis disini. Awalnya saya sempet 'udahlah ngga papa ngga bisa juga, mager gua' - haha - . Tapi setelah mengumpulkan niat dan segunduk kata - kata yang pengen lari keluar dari otak serta waktu - ehem - , akhirnya inilah hasilnya.
        Semoga ke depannya saya bisa istiqomah buat nulis disini, semoga blog ini bisa jadi teman perjalanan saya - eyah -, dan tempat saya berbagi pengalaman dan perasaan - uhukk -. Baiklah, saya rasa intro nya udah cukup, saya mau pulang, haha.

        Sampai babay.