Golden Hordé
Sejarah Berdirinya Dinasti Golden Hordé
Bangsa Mongol terkenal sebagai bangsa yang berwatak keras dan sangat menyukai peperangan. Keturunan dari Chengis Khan, menebar ketakutan dengan menginvasi setiap daerah yang mereka lalui pada awal periode pertengahan. Beberapa cabang dinasti Mongol berdiri di daerah-daerah taklukkan tersebut. Salah satu Dinasti yang terbesar dan terlama keberadaannya adalah Dinasti Golden Hordé.
Kemunculan Golden Hordé (Dinasti Kipcak), berasal dari anak cabang Dinasti Mongol yang paling lama berkuasa. mereka membawa kejayaan dalam perdagangan di Asia dan Eropa. Pada masa Ogthai, Putra Chengis Khan, sebagai Khan Agung, terjadi penaklukkan (1236-1237) besar-besaran terhadap lembah Sungai Vulgha dan Siberia, yang dipimpin oleh Batu, anak dari mendiang Jochi (putra Chengis). Dialah (Batu) pendiri Dinasti Kipcak. Salah satu anak cabang dari Dinasti Kipcak inilah yang berpengaruh di Eropa semasa Batu, kemudian hari berasimilasi dengan suku bangsa Turki yang sekarang dikenal sebagai turunan Turki di sana. Kemunculan nama Golden Hordé menurut Spuler, berasal dari kata Sira Wardu yang berarti ‘kemah emas’. Selain itu, warna kulit mereka juga warna emas.
Negeri yang didirikan Batu pada wilayah kekuasaannya terletak di sebelah selatan Pegunungan Kaukasus yang di sebelah barat dari Laut Hitam dan termasuk negara-negara yang didiami oleh bangsa Slav sampai dengan Polandia Utara. Berke membangun sebuah kota di sekitar Lembah Sungai Embu, dengan nama Saraī Baru yang berperan sebagai ibu kota. Ibu kota baru ini jaraknya sekitar 65 mil sebelah Timur Laut kota modern, Astrakhan.Pada awal kekuasaannya, Batu menaklukan lagi Kerajaan Khawarizam yang telah pernah ditaklukkan oleh pamannya, Chaghtai. Akhir nya, daerah kekuasaan yang ditinggalkan saat wafat menjadi bertambah lagi, yaitu di antara Stepa Don dan Dniepar, Semananjung Crimea dan Kaukasus Utara. Semanajung Crimea ini terkenal sebagai Constantinople II yang didiami oleh bangsa Qipcak, Rusia, dan Alan Ossetia. Karena letaknya sangat strategis, wilayah tersebut selalu diribut oleh berbagai bangsa untuk menguasainya.Pendiri dinasti ini meninggal dunia (1256) saat Sartak, putra Batu berada di Karakuram. Ketika mendengar kabar ayahnya wafat, ia segera menuju ke Sarai, namun sebelum sampai di sana dalam perjalanan ia berangkat, maka digantikan oleh saudaranya yaitu, Berke pada tahun 1256-1267 M.
Berke/ Baraka Khan merupakan bagian dari bangsa Mongol yang secara terang-terangan menyatakan dirinya sudah masuk Islam. Karena keterbukaannya dalam mengakui sebagai penganut ajaran Islam, maka banyak orang dan rakyatnya berbondong-bondong mengikuti jejaknya yaitu masuk agama Islam.
Pergantian Kepemimpinan
Setelah Berke naik takhta, tidak lama kemudian ia berkunjung ke Bukhara. Dalam perjalanan pulang dari Bukhara, kafilahnya diapit oleh dua orang pedagang Muslim. Berke bertanya kepada mereka tentang Islam. Berdasarkan penjelasan-penjelasan dari kedua orang Muslim tersebut, Berke sadar dan secara suka rela dan tanpa paksaan masuk Islam. Menurut sumber lain, dicatat bahwa Berke Khan telah masuk Islam sejak kecil dan setelah dewasa ia diajarkan Al-Qur’an oleh seorang ulama di kota Khoujand. Menurut sumber tersebut, Berke menyatakan masuk Islam pertama kali kepada adiknya yang juga diajaknya untuk memeluk agama Islam.
Kemudian, Berke Khan bersekutu dengan Sultan Mamluk dari Mesir, Rukunuddin Baybars (1260-1277 M). Saat itu Hulagu menjadi Ilkhan, gubernur di bawah Monggu Khan yang dicatat oleh sejarawan sebagai ancaman bagi dunia Islam dan sebagai tanda persahabatan Berke mengirim 200 tentara Golden Hordé ke Mesir. Berke pernah memprotes keras atas kiriman tentara Ilkhan ke Iraq dengan memberi masukan agar Hulagu Khan segera menarik tentara dari sana jauh sebelum serangan Mongol ke Baghdad.
Hal ini juga berhubungan dengan latar belakang penyerangan Baghdad, adapun salah satu latar belakang penghancuran dan penghapusan pusat Islam Baghdad yang tidak kalah penting adalah gangguan kelompok Asasin yang didirikan oleh Hasan ibn Sabbah jauh sebelum Hulagu Khan (berkuasa pada tahun 1256 M). Hasan ibn Sabbah menghancurkan kota Baghdad yang mana sebelumnya Hulagu menghancurkan benteng Asasin, di pegunungan Alamut, Persia utara 35 KM Barat Laut dari kota Qazwin, Iran, sekarang termasuk perbatasan dari Negara Azarbaijan Selatan.
Setelah beberapa kali penyerangan terhadap kelompok ekstrim, Assasin, akhirnya Hulagu berhasil melumpuhkan pusat kekuatan mereka di Alamut, kemudian menuju ke Baghdad. Sebelumnya Khalifah Abbasiyah, al-Mu’tasim (1242-1258 M), dikirimi surat oleh Hulagu Khan agar Khalifah menyerah. Surat Hulagu jatuh ke tangan wazir al-Qemi yang beraliran Syi’ah yang tidak ingin kerja sama dengan Hulagu Khan untuk membasmi sekte Assasin. Maka wazir balas surat atas nama khalifah dengan bahasa yang kurang baik/kasar yang oleh Hulagu merasa dihina dan tidak diterimanya. Dengan tentara yang banyak, Hulagu menyerang Baghdad pada tahun 1258 M.
Setahun sebelum penghancuran Baghdad, ada konflik dan perang besar terjadi antara Syi’ah -Sunni di Karkh, di mana orang-orang Syi’ah banyak yang dibantai dan banyak dibunuh oleh kaum Sunni serta rumah-rumah mereka banyak yang diratakan dengan tanah setelah barang-barang berharga dirampas. Hal ini juga menyebabkan tentara Mongol Ilkhan mengepung kota Baghdad selama dua bulan setelah perundingan damai gagal. Akhirnya khalifah menyerah, namun tetap dibunuh oleh Hulagu Khan. Pembantaian massal itu menelan korban sebanyak 800.000 orang. Setelah menghancurkan pusat peradaban Islam, Hulagu menguasai Aleppo dan Suriah , kemudian menuju ke Kairo pusat peradaban Islam II. Namun pada saat itu, Monggu Khan meninggal dunia, maka Hulagu mewakilkan kepada Ketboga sebagai panglima perang dan segera kembali ke Karakuram. Hulagu Khan, sang penghancur Baghdad, menghancurkan tolal kota Baghdad pada tahun 1258 M, kemudian tentaranya menuju ke Mesir di bawah komando Ketboga di ‘Aine Jalūt, namun mengalami kekalahan.Berke kemudian wafat pada 1267 M, setelah berperang melawan Abaga, putra Hulagu di Tiflis padatahun 1266 M. Setelah Berke, penguasa Golden Hordé adalah :
- Mongke Timūr (1267-1280),
- Tuda Mongke (1280-1287),
- Tula Bugha (1287-1290), dan
- Tokhtu/ Tokhtagha (1290-1313)
Periode pasca Berke tersebut tidak ada yang istimewa dan jarang dijumpai dalam sumber. Selanjutnya kemanakan Tokhtu dan putra dari Toghrilcha, Uzbek Khan naik di Singgasana Saraī Baru (1313 M). Para misionari Kristen telah gagal menarik umat Islam ke agama tersebut pada masa Ilkhan (Islam ). Mereka berusaha membujuk orang-orang Mongol, para khan dari Golden Hordé termasuk Uzbeg Khan yang semula seorang pagan, namun gagal. Akhirnya Uzbeg Khan memutuskan untuk memeluk agama Islam dan dicatat sebagai seorang Muslim sejati yang sangat kuat. Periode ini dicatat sebagai masa kejayaan Golden Hordé. Setelah masuk Islam, Uzbeg memakai nama Ghias al-Din Uzbeg Khan. Para khan dari Golden Hordé seperti Berke atau Tuda Mongke masuk Islam tapi banyak rakyat Golden Hordé masih tetap pagan. Ghias al-Din bukan hanya secara pribadi memeluk agama Islam, tetapi ia menjadikan orang-orang Mongol dari dinasti tersebut semuanya menjadi Muslim. Pada dekade II dari Abad XIV M, orang-orang Mongol yang konversi (berganti memeluk) Islam jumlahnya paling banyak, sehingga tidak ada lagi orang pagan di kalangan Dinasti Kipcak. Walaupun Uzbeg seorang Muslim sejati namun ia seorang pluralis yang menghormati agama-agama lain. Pada masanya, ia menyambung persahabatan dengan dunia Kristen, walaupun pope merasa kecewa karena usaha para misionari gagal untuk mengajaknya ke agama mereka. Muhammad Ghias al-Din Uzbeg Khan berkuasa selama 28 tahun, periodenya dicatat dalam sejarah sebagai masa kejayaan Golden Hordé. Keturunannya semua Muslim dan mendirikan Dinasti Tatar di Rusia.
Masa Kemunduran Golden Hordé
Setelah Uzbeg, putra mahkota, Tini Beg mengantikan ayahnya. Pada periodenya, ibu negara yang beragama Kristen sangat mempengaruhi istana. Akhirnya Tini Beg sendiri menyatakan diri masuk Kristen di hadapan istrinya. Dengan masuknnya Beg sebagai pemeluk agama Kristen, putra dari penguasa Muslim yang paling baik dalam Golden Hordé, yaitu Uzbeg Khan yang seumur hidup mencurahkan tenaganya untuk Islam, maka rakyat memberontak yang akhir nya Tini Beg lengser dari jabatannya sebagai penguasa dan dibunuh oleh saudara bungsunya, Jani Beg pada tahun 1342 M. Masa pemerintahannya hanya bertahan sekitar satu tahun. Penggantinya, Jani Beg seorang Muslim yang taat dan penguasa yang kuat. Ia berusaha mempromosikan Islam di kalangan rakyat yang sudah pindah agama.Pada masa tersebut tersebarlah penyakit menular. Jani Beg memimpin ekspedisi melawan Ilkhan Persia, tentara Golden Hordé sebanyak 300.000 orang, melumpuhkan arah selatan melaui Kaukasus dan akhirnya kota Tabriz. Selanjutnya ibu kota Azarbaijan jatuh di tangan Jani Beg. Beg kembali ke Saraī Baru dan mendadak meninggal dunia (1357) karena mendadak jatuh sakit (menular).Setelah Jani Beg meninggal dunia, terjadi anarkis secara nasional akibat perang saudara di istana Saraī Baru. Untuk merebut kursi kekuasaan dalam keluarga Jochi, pendiri Dinasti Kipcak. Revolusi di istana dan asasinasi di mana-mana terjadi. Kulpa, saudara kandung Birdi Beg, memegang kekuasaan periode1359-1360 M. Kemudian saudara yang lain, Nawroz, menduduki kekuasaan selama tahun 1360-1361, maka habislah rangkaian/turunan Batu Khan dalam kekuasaan politik Golden Hordé Hingga kemudian mucul penguasa baru, yaitu Mamai. Pada tahun 1378 Mamai, memimpin ekspedisi ke Moscow. Perang/konfrontasi pecah di tepi Sungai Vogh, anak sungai Oka. Tentara Golden Hordé kalah dan Mamai menarik tentara ke Saraī Baru.Setelah melakukan beberapa peperangan dan terus mengalami kekalahan, kemudian Dinasti Golden Hordé ini mengalami kemunduran karena adanya konflik internal yang sangat parah. Namun kekalahan tersebut tidak serta merta memadamkan sinar kekuasaan Dinasti Kipcak. Munculnya Tokhtamis membawa obor harapan baru di kalangan Mongol Islam yang merupakan keturunan dari Wardah (saudara Batu) yang duduk di Saraī Baru. Munculnya pangeran Tokhtamis dari cabang Mongol, White Hordé, dari Siberia dengan bantuan Amir Timûr Lâng, sebagai penguasa Istana Saraī Baru, mengepung kota Moscow dan Duke dan memaksa membayar pajak serta tunduk kepada Islam. Di sinilah ia dicap sebagai pendiri Golden Hordé yang kedua kali. Namun keberuntungan ini tidak bertahan lama.
Tokhtamis tidak tahu terima kasih bahwa karena Timûrlah ia dapat berkuasa. Saat Timûr tidak ada di Transoxiana, Tokhtamis menyerang secara sepihak wilayah tersebut dengan alasan bahwa Timûr telah mengambil wilayah Khawarizam (sekitar Transoxiana) yang sebenarnya adalah wilayah kekuasaan Golden Hordé. Timûr Lâng malah memutarbalikan fakta dengan alasan bahwa wilayah Khawarizam adalah milik Dinasti Chaghtai yang diambil oleh Golden Hordé. Timûr Lâng sangat gusar atas sikap pengkhianatannya, akhirnya ia sendiri datang melawati pegunungan Kaukasus dan berhadapan dengan Tokhtamis pada tahun 1390 M. Tentara Timûr segera masuk kota Moscow dan merampas serta mengadakan pembunuhan massal. Akan tetapi, ia tidak punya niat untuk berkuasa atas Rusia / Saraī Baru secara langsung. Ia mendudukan seorang dari kalangan Golden Hordé sebagai penguasa, sebagai boneka Timûr di Saraī Baru. Akibat kekalahan ini maka lonceng keruntuhan kekuatan Golden Hordé mulai berdenting.Tokhtamis wafat pada tahun 1404 M. Dengan demikian, bersamaan jatuhnya Saraī Baru dan meninggalnya Tokhtamis, mulailah muncul Rusia sebagai kekuatan baru di Asia-Eropa, sedang di Eropa Timur Islam sudah memasuki masa kemunduran bagi Golden Hordé.Setelah Tokhtamis, muncul perebutan kekuasaan berdarah dari suku-suku Mongol, baik Islam maupun non-Islam di antara khankhan. Idikhu Khan, penguasa Noghay, yang berhasil menaklukkan Saraī Baru menjadi penguasa baik dan berhasil yang terakhir di kalangan Golden Hordé. Idikhu mengalahkan pangeran Lithuania dan berhasil mengembalikan kejayaan Dinasti Kipcak. Akan tetapi, pasca wafatnya Idhiku Khan (1419 M), Dinasti Kipcak ini mulai lemah. Golden Hordé yang begitu luas dan besar mulai menyempit dan terpecah-pecah akibat pertikaian sengit di kalangan pangeran Golden Hordé dan Mongol yang lain. Mereka berlomba-lomba untuk merebut dan menguasai takhta di daerah Asia Tengah termasuk Rusia sekarang.Dengan kelemahan interen Golden Hordé, maka para Duke dari Moscow dan Lithuania mengambil kesempatan kemudian menyerang bertubi-tubi yang melumpuhkan kekuatan Islam. Namun demikian, kekuasaan Golden Hordé bertahan sampai abad XVI M, yang terkurung di sekitar istana Saraī Baru akibat lemahnya para penguasa. Sebagai catatan, dengan jatuhnya kota Saraī Baru oleh Timûr Lang (1395 ) sebagai sebuah tragedi yang sama seperti jatuhnya Baghdad atau jatuhnya Granada tahun 1492 M. Yang paling menyedihkan adalah jatuhnya Saraī Baru yang menyebabkan peradaban Islam hancur di tangan Islam pula dan selanjutnya pada tahun 1502 M Golden Hordé ditaklukan oleh Rusia. Akhirnya pada tahun 1502, Golden Hordé yang lemah dan pincang pun ditaklukkan oleh Rusia, maka habislah riwayat kekuatan dan kejayaan Islam di Rusia selamanya.
Hasil Kemajuan dalam Pemerintahan
Pada masa kekuasaan Golden Horde′, di sekitar Lembah Sungai Embu dan Ural (danau), dibangunnya sebuah kota yang menarik dan indah, dengan nama Saraī yang menjadi ibu kota dinasti tersebut. Pada masa Golden Hordé, para pedagang Itali mendominasi dan memainkan peranan penting dalam dunia perdagangan.Berke adalah seorang politikus yang ulung ketika adanya ancaman Mongol dari cabang lain ( Ilkhan ). Di antara penguasa dunia, Berke merupakan penguasa terbaik pada Abad XIII M. Perlu dicatat bahwa daerah-daerah yang jauh dari ibu kota tetap memerintah sendiri. Sebagai pengakuan kedaulatan Berke, mereka membayar pajak kepada Golden Hordé. Berke secara resmi menghapuskan Yassaq dan digantinya dengan Syari’at Islam. Pendiri Saraī Baru ini terkenal dalam sejarah sebagai pelindung Islam yang banyak membangun madrasah, masjid, dan monument-monumen yang indah.
Pada masa Uzbeg Khan, seseorang yang semula Pagan akhirnya memeluk agama Islam dan dicatat sebagai seorang Muslim sejati yang sangat kuat. Pada masa periode inilah dicatat sebagai masa kejayaan Golden Hordé. Pada masa Uzbeg, administrasi kenegeraan diterapkan sesuai dengan Syari’at Islam. Semua peraturan negara menggunakan hukum Islam dengan menggantikan Yassaq secara total dan mulai diterapkan pada masa Berke. Inilah catatan emas dalam sejarah Mongol dan Rusia. Uzbeg Khan pengemar kesenian dan sastra. Pada masanya, suasana kehidupan dengan budaya sangat tinggi terwujud. Uzbeg juga mendirikan banyak bangunan yang indah, termasuk banyak masjid dan sekolah. Perdagangan pada masa Uzbeg maju pesat. Para pedagang datang dari berbagai penjuru dunia, termasuk dari China dengan melewati Laut Baltik.
Periode Golden Horde′ inilah juga masa keemasan ilmu pengetahuan di bidang astronomi. Patut dicatat bahwa pada periode nya ini menjadi Negara Islam yang paling sempurna. Yang dimaksud dengan Islam yang sempurna ialah jasa-jasa dan perhatian Uzbeg Khan terhadap penegakan aturan-aturan Islam di kalangan Mongol yang paling patut dipuji, lebih-lebih di kalangan Golden Horde′.
Sumber : Jurnal Kawistara, Vol.7 No 2, 17 Agustus 2016, Hal. 113-224, "Dinasti Golden Horde′ Pembacaan Historis Terhadap Kekuasaan Mongol Islam di Asia Tengah" - M. Abdul Karim.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar